26 Ogos 2012 - 09:29

Pengikut Ustaz Tajul Muluk dibunuh perusuh ketika melindungi kanak-kanak dan wanita. Polis tidak tegas, punca perusuh semakin berani

Agensi Berita Ahlul Bait (ABNA.co) - Pengikut mazhab Syiah Madura yang masih menetap di kampung halaman masing-masing diserang sekumpulan perusuh di Desa Nangkernang, Sampang, Jawa Timur. Dalam serangan ganas ini dua pengikut Syiah dibunuh.

Korban bernama Hamama dan Tohir, maut akibat ditikam dengan senjata tajam.

Empat yang lain menderita luka parah, enam mengalami cedera ringan manakala ibu Ustaz Tajul Muluk pengsan akibat dilempar batu.

Menurut kordinator Suruhanjaya Orang Hilang (Kontras) Jawa Timur, Andy Irfan kepada Tempo, "Terjadi aksi pelemparan batu dan perkelahian serta pembakaran bekas-bekas rumah isteri Tajul Muluk di Dusun Nankernang, Desa Karanggayam, Kecamatan Omben Sampang,"

Andy menjelaskan insiden bermula pada pukul 08.00 pagi apabila rombongan pelajar dari komuniti Syiah sedang berangkat menuju ke luar kota untuk melanjutkan pengajian sekolah di pondok mereka setelah hari raya. "Dua kereta rombongan pemuda dan pemudi kemudian dihalang oleh sekelompok perusuh. Mereka dilarang masuk ke dalam kampung Nankernang," ujarnya.

Perusuh itu kemudian menyerbu rumah isteri Ustaz Tajul Muluk, pemimpin komuniti Syiah Sampang yang sedang dianiaya hukuman dua tahun penjara oleh Pengadilan Negeri Sampang atas tuduhan penghinaan agama.

Rumah Tajul Muluk sebelum ini pernah dibakar oleh perusuh anti syiah pada akhir Disember 2011 lalu. Namun rumah dari bekas-bekas kebakaran yang ditempati oleh ibu, istri Tajul Muluk, beserta dua anaknya dibakar lagi oleh perusuh anti syiah.

Menurut Andy, aksi pembakaran mengakibatkan pergaduhan antara dua kelompok tidak dapat dielakkan. Pemuda dari komuniti Syiah Sampang yang ingin melindungi keluarga Tajul Muluk membalas tindakan melontar dari perusuh tersebut. "Lapan orang mengalami luka-luka dan empat orang pengsan dan keadaan ketika ini masih tegang," ujar Andy.

Sepuluh rumah pengikut mazhab Syiah dibakar

Tidak cukup dengan membunuh, kira-kira 200 orang perusuh dari kelompok Sunni Madura turut membakar 10 rumah pengikut mazhab Syiah.

"Selain ada dua korban meninggal, lebih kurang sepuluh rumah dibakar. Kerugian selainnya belum diketahui kerana kami masih bersembunyi," kata sumber Tempo yang menggunakan nama samaran HI di lokasi kejadian petang, 26 Oktober 2012. 

HI berkata ketika ini puluhan warga komuniti Syiah di Nangkernang dipindahkan ke Madrasah Karanggayam. Namun masih ada yang pulang ke rumah secara diam-diam di luar Dusun Nangkernang. "Bekalan elektrik terputus, situasi tegang. Ada informasi pembakaran rumah akan berlanjut di waktu malam nanti," ujarnya.

Pengikut Ustaz Tajul Muluk dibunuh perusuh ketika melindungi kanak-kanak dan wanita

Ketika kenderaan yang para pelajar berpatah balik, perusuh mengekorinya sehingga ke kawasan perumahan mereka. Menurut laporan berita, salah seorang perusuh terkena ledakan bom buatan sendiri yang sengaja ditanam sebagai periuk api di kawasan penduduk Syiah.

Emosi pengikut Sunni semakin terpancing dengan kejadian tersebut dan mula menghunuskan senjata tajam seperti pedang dan sabit. Pertarungan menyebabkan seorang pengikut Syiah bernama Hamamah (50) terbunuh setelah usus perutnya terburai ditikam senjata tajam. Rusuhan itu juga menyebabkan kecederaan sebahagian besar kelompok Syiah. Para pengikut Sunni terus melakukan keganasannya dengan membakar puluhan rumah milik pengikut Syiah.

Menurut Setiausaha persatuan Ahli Bait Indonesia, korban dalam insiden itu ada dua orang. Salah seorang bernama Tohir.

Dari informasi yang dihimpun detikcom, Tohir terbunuh dalam persembunyiannya di kawasan sungai sempadan desa. Tohir menghembuskan nafas terakhir setelah mengalami banyak luka tikaman di tubuhnya terutama sekali pada bagian belakang. 

Insiden kekejaman ini melahirkan kecaman dari berbagai pihak.

"Dua orang meninggal, mereka bernama Hamama dan Tohir, lima orang cedera ketika bertindak melindungi anak-anak dan wanita, saya ketakutan sekali," ujar Umi Kulsum, isteri dari ustad Tajul Muluk, pemimpin Syiah Sampang, kepada Beritasatu.com, hari ini.

Umi berkata, kejadian bermula di waktu pagi hari ketika kira-kira 30 kanak-kanak, termasuk lima orang anak-anak Umi dan Tajul, dan lima anak saudaranya sedang berangkat ke Pondok YAPI Bangil di Malang.

Tiba-tiba ribuan orang menghalang van yang membawa mereka dan mendesak mereka untuk tidak pergi.

"Ketika kejadian tidak ada polis, perusuh menyerang lelaku dewasa yang cuba melindungi kanak-kanak dan wanita dengan pedang, golok dan lain-lainnya," ujar Umi.

Hingga sekarang menurutnya, hanya ada lapan polis dari balai Sampang yang berada di lokasi. Jenazah korban juga belum dikebumikan.

Empat buah rumah, termasuk rumah milik Umi dan Tajul sudah dibakar perusuh.

"Mungkin sekarang sudah lebih dari empat rumah, api sudah bergerak ke Timur, tolonglah kami, suasana sangat tegang," kata Umi.

Dalam rusuhan tersebut, Umi terpisah daripada anak-anaknya dan hingga sekarang ia tidak mengetahui di manakah mereka.

Polis tidak tegas, punca perusuh semakin berani

Umi berkata, ia mendengar berita serangan tersebut beberapa hari lalu dan sudah dilaporkan ke pihak polis. Namun tidak ada tindakan jelas untuk mencegah insiden tersebut.

Umi mengatakan ia mengenali beberapa orang penyerang tersebut sebagai rakan dari Roisul Hukama, tokoh Nahdlatul Ulama di Dusun Nangkernang, Kecamatan Omben, Sampang, sekaligus adik kandung Tajul Muluk, yang melaporkan kes abangnya kepada pihak polisi Daerah Jawa Timur, atas dasar penistaan agama.

"Mahu berapa nyawa lagi yang harus jadi korban sampai polis dan pemerintah mahu turun bertindak? Anak-anak kami sudah lima bulan tidak bersekolah, suami saya dipenjarakan, saya hidup dalam ketakutan," Umi berkata dengan penuh emosi.

Umi berharap Polis Sampang tidak berat sebelah dan segera bertindak terhadap para penyerang dan menghukum mereka dengan adil.

Polis didesak segera bertindak

Anggota Suruhanjaya Undang-undang Dewan Perwakilan Rakyat (DPR), Eva Kusuma Sundari, mendesak agensi penguatkuasa undang-undang segera turun ke lokasi kejadian untuk menghentikan keganasan yang sedang berlaku di sana.

"Jangan sampai korban gugur lagi, Polis harus segera bertindak dan turun menjaga keamanan serta keselamatan penduduk yang diserang," kata Eva di Jakarta, hari ini.

"Perusuh masih mengepung, mengancam membakar perkampungan. Kanak-kanak ketakutan, ada sejumlah 150 anak di situ," kata Eva.

Kes keganasan terhadap jemaah Syiah Dusun Nangkrenang, Sampang sebenarnya sudah bermula sejak 2004. Akibat hasutan yang terus dilakukan oleh tokoh-tokoh agama dan masyarakat, kebencian terhadap jamaah Syi'ah akhirnya benar-benar meledak menjadi aksi kekerasan perusuh. Rumah ketua Ikatan Jamaah Ahl al-Bait (IJABI), Ustad Tajul Muluk, dibakar oleh 500 orang yang mendakwa diri mereka sebagai kelompok Ahlu sunnah wal Jamaah pada 29 Disember 2011.

Pembakaran ini merupakan yang kedua kali dalam bulan Desember 2011. Sebelum itu pembakaran rumah Jamaah Syi'ah juga terjadi di Desa Blu'uran, Karang Penang, Sampang pada 17 Disember 2011 di awal pagi. Ketika itu, perusuh memaku palang pada pintu rumah Moh Sirri sebelum membakarnya. Perusuh secara sengaja ingin membunuh Moh Sirri sekeluarga.

Masyarakat Sunni dihasut

Sekretariat Komuniti Perisikan Daerah (Kominda) Jawa Timur, Zaenal Buhtadien, berkata rusuhan antara penduduk dengan komuniti Syiah Sampang bermula dari niat penduduk Syiah yang akan membangun tempat beribadah dan rumah keluarga pimpinan Syiah Sampang, Ustad Tajul Muluk. "Mereka akan membangunkan semula rumah Tajul dan penduduk menghalang," kata Zaenal kepada Tempo, Minggu, 26 Agustus 2012.

Menurut Zaenal, niat warga Syiah membangunkan kembali tempat ibadah dan rumah keluarga Ustad Tajul itulah yang menjadi pemicu kemarahan penduduk sekitar kawasan tersebut.

Puncak dari kemarahan, kata Zaenal, yang juga Ketua Badan Kesatuan Bangsa dan Politik (Bakesbangpol) Jawa Timur itu, terjadi ketika sebuah kereta pengangkut bahan bangunan datang ke rumah keluarga Ustaz Tajul yang terus dihalang puluhan penduduk.

Halangan kemudian membawa kepada tindakan saling melempar batu antara pengikut Syiah dan pendudik. Bahkan rusuhan juga membawa kepada tindakan pembakaran bekas-bekas rumah Ustaz Tajul.

Selain pembangunan rumah Ustad Tajul, kedatangan beberapa keluarga Tajul ke bekas rumah Ustaz Tajul di Dusun Nankernang selama hari raya juga menjadi punca perbalahan. Bahkan, saat malam takbir raya juga terjadi ketegangan. "Warga Syiah dilarang bertakbir ketika hari raya lalu, dan pernah terjadi ketegangan juga," kata Zaenal.